Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Haruskah Tunduk Kepada Tukang Parkir?

Tukang Parkir?

Pernah gak kamu, mengunjungi suatu tempat yang karcis masuk bilangnya sudah sekaligus dengan parkir, tapi pas ke dalem ada tukang parkir lagi yang minta?

Atau, pernah ga jajan ke minimarket yang jelas-jelas didepannya sudah ada tempelan parkir gratis, tapi masih ada bapak-bapak yang pake kemeja seragam oren atau biru dibelakangnya bertuliskan parkir?

Atau nih, pergi jumatan, terus bawa motor, eh taunya parkirannya penuh, akhirnya parkir dipinggir jalan, pas mau pulang tiba-tiba ada yang nyamperin dan nolongin mundurin motor gitu dengan megang jok belakangnya?

Banyak sekali memang, fenomena ini. Fenomena ketika tukang parkir selalu ada disaat tidak ada yang mengharapkan.

Bear with us, tulus gak sih meskipun cuman ngasih dua ribu ke orang yang tiba-tiba ada ketika kita mau beranjak dari suatu tempat? Atau ke tukang parkir seasonal, artinya ketika ada sesuatu yang rame, ya ngelapakin area jalan umum untuk dijadiin parkiran bahkan jalan pedestrian agar orang-orang mau menstandarkan motornya dan membayar dua ribu atau seribu?

Padahal, di sisi lain,  pernah gak kita mempermasalahkan parkir di mall atau sebuah gedung yang ada gerbang otomatis nya, meskipun bayar sampe 20 ribu? Jarang kan. Meskipun kadang, kalo parkirannya sampe 20 ribu, kita ngeyel juga, tapi diluar karena gak berani sama mas mbak yang jaga karcisnya, busett mahal amat. Terus kenapa kita koar-koar dan agak setengah hati sama tukang parkir dadakan? Toh itu kayak beramal aja, atau sisihin sedikit buat mereka yang membutuhkan gitu, bukannya itu baik?

Masalahnya adalah, resmi dan tidak resminya. Masalah memelihara kebiasaan yang belum baik untuk bangsa kita. Gini deh, kenapa kita menerima membayar parkir 8000 selama 4 jam disebuah gedung, dan tidak menerima membayar 5000 parkir dipinggir jalan selama waktu yang sama? Ya resmi dan tidak resminya. Membayar 8000 ribu, kita bisa merasakan keamanan yang HQQ, para pegawainya juga dapet gaji yang tetap, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Membayar 5000 ke tukang parkir jalanan layaknya kita merasa mereka hanya mau uang saja, keamanan belum tentu terjamin, dan juga mereka tak bisa sebetulnya menggantungkan penghasilan dari parkir. Kan kasian juga ke merekanya, terlebih yang lebih kasian adalah ketika banyak yang menolak mengasih uang, bahkan kalo bapak-bapak yang berumur suka kasian banget. Kalo kita menolak membayar yang 5000, pernah gak kepikiran takut diapa-apain motornya, dikempesin atau apalah. Gak tenang gitu.

Kita membiasakan orang untuk memanfaatkan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Entah ini dimulai dari kapan, dari mana, juga gak tau kenapa selalu ada tukang parkir di jalanan umum. Mungkin ya, ini masih kemungkinan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, adalah karena dahulunya mereka menerima ketika orang yang tadinya ingin membantu muter balikin kendaraannya dan dikasih duit gitu setelahnya, makanya mungkin langsung berpikir wah ini lumayan juga dapet duit dari ginian doang. Kan orang Indo kebanyakan oportunis, wkwkwk.

Terus, hampir disetiap sudut jalan, yang biasanya ditoko yang rame, di pedagang bakso yang enak, di masjid kecil tapi masih muat untuk pake jumatan, dan tempat-tempat strategis lain yang banyak peminat kendaraannya menjadi sebuah kesempatan usaha kecil-kecilan dari cuman nongolin muka ketika ada yang mau keluar kendaraannya.

Lebih gak setuju lagi ketika yang jaga parkir adalah yang bertato, bertindik, rambut di cat, sepatu booth, celana tersilet-silet. Seperti itu bentuk visual agar kita ga usah ngomong, tapi langsung ngasih duit parkir aja. Kan serem yak. Tukang parkir menjadi wadah premanisme nantinya. Satu tempat dikuasai oleh preman tukang parkir, ya tak memungkiri tempat lain akan seperti itu, dan akan terus terjadi tanpa ada yang memberi tahu kalo itu salah.

Lantas, apa tujuannya beropini seperti ini? Saya, kamu, kita, mungkin tak bisa menegur mereka yang menggantungkan penghasilan dari parkir. Saya, kamu, kita, mungkin belum bisa menanggung resiko yang tidak baik melawan preman hanya karena parkir menjadi permasalahan. Tapi kita tau bahwa ini belum benar. Saya yakin, kita sama-sama ingin negara ini maju, penghasilan orang-orangnya lebih baik, dan pasti.

Maka dari itu, saya kira, tukang parkir itu butuh diresmikan dan diatur. Misalkan, di gerai minimarket, alangkah lebih baik kalo misalkan memang meresmikan bahwa disana ada tukang parkir. Mereka (yang punya minimarketnya) bisa meminta konsumennya bayar sendiri ke tukang parkir, atau mereka menaikan harga beberapa produk mereka yang dijualkan, misalkan naik 50 perak atau 100. Meskipun tidak banyak, tapi setidaknya bisa memastikan kalo tukang parkir akan mendapatkan penghasilan tetap.

Sama halnya, ditempat-tempat rekreasi atau tempat rame, saya yakin pasti ada building managementnya atau yang memang memelihara tempat itu. Bahkan saya kira, hal seperti ini akan mengurangi premanisme atau apapun. Jadi kita sebagai yang punya kendaraan merasa sama-sama enak. Merasa sama-sama bahagia, karena dua-duanya diuntungkan. Bukankah negara akan maju kalo penduduknya berbahagia?


Kalo kalian punya pengalaman yang lebih menarik dan tak terlupakan tentang tukang parkir dan preman parkir, ayo ngobrol lewat kolom komentar dibawah.