Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Facebook antara keuntungan besar dan tanggung jawab

CEO Facebook Mark Zuckerberg saat berbicara dalam konferensi pengembang F8, Selasa, 18 April 2017

"Dengan kekuatan yang besar, datang pula tanggung jawab yang besar". Para penggemar tokoh pahlawan super Spider-Man mestinya pernah mendengar kalimat yang diucapkan Ben Parker, paman yang mengasuh Peter Parker, manusia di dalam kostum laba-laba itu.

Sepertinya kalimat tersebut mesti disampaikan kepada Facebook, perusahaan sosial media asal Amerika Serikat yang semakin membesar, baik dalam ukuran maupun pengaruhnya.

Pada Rabu (3/12/2017), perusahaan asal Amerika Serikat ini merilis laporan keuangan kuartal I 2017 yang berakhir 31 Maret. Berbagai pencapaian besar tampak dalam laporan tersebut.

Sepanjang tiga bulan awal 2017, perusahaan tersebut beroleh pendapatan USD8,032 miliar (Rp107 triliun), naik 49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Keuntungan bersih yang didapat mencapai USD3,064 miliar, naik 76 persen dari kuartal I 2016.

Jumlah rata-rata pengguna harian naik 18 persen dari tahun-ke-tahun menjadi 1,28 miliar akun, sementara pengguna rata-rata bulanan mencapai 1,98 miliar, naik 17 persen.

Saat ini penduduk Bumi diperkirakan mencapai 7,5 miliar orang. Dengan demikian, jumlah pengguna Facebook sudah mencapai seperempat populasi manusia. Bisa dibayangkan potensi pengaruh media sosial ini dalam kehidupan manusia.

"Kami mengalami awal yang bagus pada 2017," kata CEO Mark Zuckerberg seperti dikutip The Verge (3/5). "Kami akan terus membangun perangkat untuk mendukung komunitas global yang kuat."

Walau demikian, keberhasilan tersebut terjadi di tengah segala kontroversi yang menimpa perusahaan yang didirikan oleh Zuckerberg dkk. pada tahun 2004 ini.

Mulai dari masalah terus beredarnya berita hoaks melalui platform media sosial tersebut, hingga dua peristiwa pembunuhan yang baru-baru ini terjadi; seorang ayah membunuh bayi perempuannya di Thailand dan Steve Stephens, yang secara acak memilih korbannya di AS.

Kedua pembunuh itu menyiarkan secara langsung aksi sadis mereka lewat Facebook Live. Fitur tersebut terhitung baru ditambahkan pada media sosial itu dengan tujuan, tentu saja, menambah penghasilan Facebook dari iklan.

Zuckerberg langsung bereaksi. Dalam akun pribadinya, Zuckerberg mengatakan, "Jika kita ingin membangun sebuah komunitas yang aman, kami mesti merespon dengan cepat."

"Kami tengah bekerja untuk membuat video-video ini lebih mudah dilaporkan sehingga kami bisa mengambil tindakan yang tepat secepatnya -- baik itu merespon dengan cepat saat seseorang butuh pertolongan atau menurunkan sebuah unggahan."

Respon cepat Facebook, lanjut Zuckerberg, adalah menambah 3.000 orang pada tim yang bertugas mengamati konten yang tidak sesuai atau ofensif, terutama pada siarang langsung video di Facebook Live. Sebelumnya Facebook memiliki 4.500 pegawai yang mengerjakan tugas itu.

Mereka juga tengah bekerja keras untuk mencegah penyebaran isu dan berita hoaks, bahkan jika kebohongan tersebut justru dilakukan oleh sebuah pemerintahan.

"Kami harus memperluas fokus keamanan dari tingkah kasar tradisional, seperti peretasan akun, malware, spam, dan penipuan finansial, kepada salah penggunaan yang lebih halus, termasuk upaya untuk memanipulasi wacana publik dan memperdaya manusia," tulis Facebook dalam laporan (fail pdf) yang dirilis Kamis (27/4).

Karena mereka adalah perusahaan teknologi, seperti dituturkan CNet (27/4), pembelajaran mesin juga dilakukan untuk mengidentifikasi akun-akun palsu yang banyak beredar.

Zuckerberg menyatakan Facebook terus mengembangkan kecerdasan buatan untuk membantu kerja manusia dalam menyisir unggahan-unggahan di situs tersebut.

"Tak peduli berapa banyak orang yang kami miliki dalam tim, kami tidak akan pernah bisa mengawasi segalanya," kata Zuckerberg.

Sebagai sebuah media sosial, Facebook jelas akan terus hidup selama orang-orang merasa nyaman menggunakannya. Semakin banyak pengguna, semakin banyak juga pengiklan yang datang dan pada akhirnya terus mempertebal pendapatan mereka.

"Jika orang merasa aman di Facebook, mereka akan lebih terlibat dan semakin sering menggunakannya," jelas Debra Aho Williamson, seorang analis dari eMarkete, kepada The New York Times (3/5). "Dan jika mereka lebih sering menggunakannya, akan lebih banyak ruang untuk iklan.